Sabtu, 25 Juni 2011

Saat Lidah Bersilat

LIDAH.

Lunak, licin, tak bertulang. Lidah pengecap berbagai rasa dari setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Begitu makanan masuk, lidah mengirim pesan pada otak seketika menimbulkan rangsangan untuk menyimpulkan rasa manis, pedas, asin, maupun pahit.

Lidah. Begitu lincah saat berbicara. Kata-kata meluncur melesat seketika saat lidah menunjukkan kebolehannya saat beretorika dan berucap kata-kata manis terbalut tipu daya. Namun, ada kalanya lidah gagap terbata  saat dituntut untuk JUJUR mengatakan kebenaran.

Ah… Lidah. Kecilnya dirimu tak sekecil pengaruhmu saat berulah. Luka tertusuk duri mungkin bisa disembuhkan, namun saat lidah telah bersilat setajam silet,  tak jarang meninggalkan luka mendalam yang sulit terhapus dalam benak.

Ya… Masih kuingat, saat lidahku bersilat di masa lalu. Tak sadar kusakiti orang-orang yang kucintai.Aku tak berhati-hati menjaga lidah yang selalu lincah tak terkendali.Ya Rabbi… Lidah setajam pedang, bahkan mungkin bisa lebih tajam. Tanpa sadar, kata-kata meluncur sebagai gambaran kepribadian sebenarnya. Banyak manusia, berbicara baru berpikir. Bukan memikirkan, apa yang layak dan harus dibicarakan.
Kini… kulihat lidah itu semakin lincah dari hari ke hari.

Ya Rabbi… Bantu hamba menjaga hati, menjaga lisan ini dari perkataan yang tak seharusnya hamba katakan. Fasihkan lisan ini dalam menyampaikan kebenaran. Istiqomahkan aku dalam jalan-Mu…

0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 25 Juni 2011

Saat Lidah Bersilat

LIDAH.

Lunak, licin, tak bertulang. Lidah pengecap berbagai rasa dari setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Begitu makanan masuk, lidah mengirim pesan pada otak seketika menimbulkan rangsangan untuk menyimpulkan rasa manis, pedas, asin, maupun pahit.

Lidah. Begitu lincah saat berbicara. Kata-kata meluncur melesat seketika saat lidah menunjukkan kebolehannya saat beretorika dan berucap kata-kata manis terbalut tipu daya. Namun, ada kalanya lidah gagap terbata  saat dituntut untuk JUJUR mengatakan kebenaran.

Ah… Lidah. Kecilnya dirimu tak sekecil pengaruhmu saat berulah. Luka tertusuk duri mungkin bisa disembuhkan, namun saat lidah telah bersilat setajam silet,  tak jarang meninggalkan luka mendalam yang sulit terhapus dalam benak.

Ya… Masih kuingat, saat lidahku bersilat di masa lalu. Tak sadar kusakiti orang-orang yang kucintai.Aku tak berhati-hati menjaga lidah yang selalu lincah tak terkendali.Ya Rabbi… Lidah setajam pedang, bahkan mungkin bisa lebih tajam. Tanpa sadar, kata-kata meluncur sebagai gambaran kepribadian sebenarnya. Banyak manusia, berbicara baru berpikir. Bukan memikirkan, apa yang layak dan harus dibicarakan.
Kini… kulihat lidah itu semakin lincah dari hari ke hari.

Ya Rabbi… Bantu hamba menjaga hati, menjaga lisan ini dari perkataan yang tak seharusnya hamba katakan. Fasihkan lisan ini dalam menyampaikan kebenaran. Istiqomahkan aku dalam jalan-Mu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.